• 02 Dec, 2022

Hustle Culture

Hustle Culture

Oleh: Gamawan Fauzi

Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel yang menarik. Pertama soal resesi seks yang terjadi di beberapa negara belakangan ini. Kedua soal Hutle culter yang mulai di keluhkan kaum milenial di negara China akhir akhir ini.

Sebelum mengupas lebih jauh tentang  dua  hal itu, sebaiknya dipahami  arti atau makna dari keduanya.

Resesi sex adalah istilah baru yang belum terlalu populer dan baru muncul belakangan ini.

Sebelumnya dikenal soal resesi ekonomi yang secara umum dapat diartikan sebagsi sebuah periode terjadinya penurunan ekonomi akibat merosotnya aktivitas ekonomi dan industri dalam jangka waktu tertentu.

Resesi sex, yang istilahnya baru dimunculkan itu  bermakna bahwa pada suatu kurun waktu tertentu (nanti), maka jumlah peduduk disuatu negara akan terus berkurang atau penduduk akan tumbuh rendah,  disebabkan orang makin ingin hidup tanpa lembaga pernikahan dan generasi berusia (subur) enggan untuk menikah atau kawin dan memiliki keturunan.

Tentu saja ini mengkhawatirkan,  karena akan menghambat keberlanjutan pembangunan yang bertumpu pada Sumberdaya manusi.

Sementara istilah Hustle culture, dimaknai sebagai gaya hidup seseorang yang terus bekerja dengan waktu panjang dengan istirahat yang singkat.

Dengan mencuplik dua artikel yang bersifat KELUHAN itu, maka sesungguhnya saat ini ada  masalah yang terjadi atau akan terjadi dimasa datang.

Disatu sisi,  ada sejumlah orang yang tak mau di "bebani" masalah hidup berkeluarga yang di katakan mereka ribet, memusingkan dan mengekang kebebasan dan mending hidup sendiri sebagai lajang yang dapat menentukan apa maunya diri tanpa ada yang membatasi

Dan dilain sisi, sebagian orang di negara industri mengeluh dengan gaya hidup sangat banyak bekerja dan minim istirahat, lalu menyerah.

Sekitar tahun 80-an, saya mendengar cermah Duta Besar Indonesia untuk negara Jepang, Letjen  (purn) 
Sayidiman. Beliau menceritakan bagaiman masyarakat jepang yang sangat disiplin itu menjadi masyarakat yang " gila kerja " atau workaholic.

Setelah perang dunia kedua berakhir dan Jepang kalah oleh sekutu  di tahun 1942, mereka tak meratap panjang, tapi segera bangkit dari kehancurannya dengan menggerakkan sumberdaya manusianya secara maksimal.

Dalam waktu yang singkat, akhirnya Jepang kembali tampil sebagai negara industri yang maju di dunia.

Semenjak tahun 70-an, ketika indutrialisasi dan teknologi mulai berkembang pesat di dunia, masyarakat dunia pelan-pelan bergeser menjadi 
masyarakat gila kerja atau workaholic.

Di jepang, kata Sayidiman, laki laki kalau pulang kerja lebih cepat,  merasa malu dengan keluarganya. Karena di anggap sebagai orang yang tak terpakai.

Akibat gila kerja, banyak orang di jepang tidur di hotel kapsul karena sudah letih bekerja dan jarak ke rumah yang jauh.

Demikian gila kerjanya masyarakat jepang, hingga negara mengkampanyekan cuti untuk rakyatnya, bahwa cuti bukan dosa. Bahkan ada yang memberi insentif bagi karyawannya untuk cuti.

Di beberapa negara lain, sekarang sedang dilakukan uji coba untuk bekerja 4 hari dalam seminggu, dengan moto 100 zero 100.

Artinya, dengan perencanaan yang sempurna, istirahat yang cukup, akan menghasilkan kinerja bernilai sempurna.

Konsep tentang kerja dengan mengandalkan management sumber daya manusa, telah di tulis dalam puluhan bahkan ratusan buku. Riset riset tentang ini juga banyak dilakukan  untuk mendapatkan hasil kinerja optimal.

Lalu kenapa  ada krisis sex dan hustle culture yang mulai di keluhkan? dan sepertinya akan menjadi ancaman masa depan terutama di negara negara maju yang sangat sibuk ?

Jepang, sebelum Restorasi Meiji, rakyatnya juga pemalas dan suka mabuk mabukan. Tapi setelah masuk dalam dunia industri, semuanya dipaksa oleh sistem menjadi pekerja keras.

Dan si pemalas tersingkir secara alamiah. Mereka menjadi strugle for life. Keadaan itu terus berlangsung sampai sekarang.

Dan bagi yang tak sanggup berkompetisi lalu menyerah atau kalah dalam persaingan, lalu memilih hidup lajang  agar beban tak makin berat dan khawatir generasi anak anak mereka akan miskin dan terdepak, hingga gelombang pemikiran seperti ini melahirkan resesi  sex bagi negara tersebut dan beberapa negara lainnya yang kehidupan sosial dan ekokominya mirip Jepang.

Dulu di China di larang rakyatnya punya anak lebih satu. Sekarang di bolehkan dua demi menangkal resesi sex.

Soal hustle culture. Banyak pula variasinya. ada juga diantara masyarakat di negara tersebut yang menjadikan kesibukan dan kerja keras sebagai kenikmatan. Orang minang mengumpamakan mereka ini seperti  seperti " baju basah kariang di badan, kata sahabat dan senior saya DR. Ir. Agus Thaher.

Model ini, mirip dengan menikmati uang dan menikmati mencari uang.
Ada banyak orang yang mendahulukan kenikmatan dari uang yang di dapat untuk bersenang senang  ada uang sedikit, lalu beli mobil beberapa buah, pakaian mentereng, rajin pelesiran dan selalu terkesan kaya.

Tapi ada juga sekelompok orang yang menjadikan pekerjaan mencari uang itulah membuat mereka senang. Walaupun uangnya berlimpah, dia tetap hidup biasa biasa saja dan tampilannya pun biasa biasa juga,  tanpa terkesan sebagai orang kaya.

Mungkin banyak orang lupa, bahwa manusia bukanlah mesin, manusia adalah makhluk  yang memiliki jiwa, rasa, cinta, belas kasih, perasaan, dan banyak sisi lainnya yang sangat kompleks.

Manusia bukan saja makhluk berfikir dan makhluk sosial, tapi juga makhluk spiritual yang bahkan sampai memikirkan nasibnya setelah mati dan bagaimana mempersiapkannya.

Manusia, seperti di katakan Al Qur'an, adalah makhluk yang paling sempurna, laqad khalaqnal insana fi ahsanitaqwim.

Qur'an juga juga mengingatkan manusia tentang pemanfaatan waktu. Siang untuk bekerja mendapatkan karunia Allah dan malam untuk tidur dan beribadah lebih khusu'.

Bahkan Allah bersumpah demi waktu. Wal ashri innal insanalafi khusrin ilallazinaamanu waamilushalihat watawa shaubilhaq wathawa shaubishabri.

Qur'an juga mengingatkan manusia untuk berusaha/ berikhtiar atau bekerja mencari karunia Allah.
Setelah shalat subuh, bertebaranlah engkau dimuka bumi ( mencari nafkah ).

Dan rasulullah dalam sebuah riwayat bahkan pernah menyuruh sekelompok pemuda yang hanya beribadah di mesjid untuk keluar untuk bekerja , berusaha mencari rejeki.

Rasulullah juga pernah melarang seorang yang beribadah  berlebih lebihan tanpa memikirkan dunia.

Dunia memang kompleks dan kadang juga  paradoks. Disatu sisi banyak negara mengkampanyekan agar masyarakatnya jangan gila kerja/ workaholic, sementara disisi lain banyak pula negara yang menyerukan rakyatnya yang malas untuk bekerja keras.

Berlebih lebihan memang sesuatu yang tak baik. Berlebih lebihan terhadap sesuatu yang baik saja juga tak baik, berlebih lebihan sesuatu yang kurang baik apalagi.

Karena itulah qur'an menyerukan agar manusia menjadi umat yang di tengah tengah. Orang menyebut dengan moderat dan islam mengistilahkan dengan Ummatan wasyatan, ummat pertengahan.

Tentang hal ini, kekaguman saya kepada para leluhur Minangkabau yang berfikir keras tentang banyak hal mengenai hidup makin menjadi jadi.

Orang Minang sejak dulu mengatakan. Malabiahan rancak rancak, mangurangi sio sio. Hari nan sahari di patigo, malam nan samalam di parampek.

Betapa indahnya konsep itu. Karena dalam diri setiap manusia, ada hak untuk dirinya, ada hak untuk tuhannya, ada hak untuk keluarganya dan ada hak untuk sosialnya.

Saya kira, istilah there is time to work and the time to play belumlah sehebat filosofis Minang tersebut.

Berlebihan dan kecenderungan yang sangat kepada satu sisi kehidupan saja tidak akan melahirkan harmoni pada dirinya dan juga lingkungan sosial.

Dulu disaat saya masih muda, saya kagum dengan cerita pak Sayidiman tentang masyarakat Jepang. Kini setelah beranjak menjadi  young old, tuo alun, mudo talampau,  saya meralat kekaguman itu setelah saya kagum permanen dengan konsep Islam dan juga nilai-nilai keminangkabauan  yang bersandi syarak.

Jakarta 27 September 2022

 

[recently-viewed-posts title="Recently Viewed Posts" subtitle="Your currently viewed posts."][/recently-viewed-posts]